Pages

Senin, 10 November 2014

SOSOK MINGGU 4, OKTOBER

PENYELAMAT TANAMAN ANGGREK

Saat menyusuri jalan-jalan di Kalimantan Tengah,di kiri-kanan saya lihat pepohonan mulai ditebangi. Hutan yang dulu rimbun sekarang jadi terbuks,lapang. Di sela-sela pepphonan itulah tersisa anggrek-anggrek hutan yang berserakan. Kecintaannya pada anggrek muncul tahun 2007 saat Maidi bekerja serabutan di sebuah tempat pencucian mobil di Buntok. Kala itu,sang pemilik pencucian mobil memelihara aneka jenis anggrek hibrida (anggrek hasil persilangan). Maidi pun coba membeli satu-dua tanaman anggrek hibrida. Harganya waktu itu Rp 25.000 - Rp 30.000 perpohon. Namun usahanya memelihara anggrek tidak berjalan mulus, berulang kali anngrek peliharaan Maidi malah layu,kering dan mati. "Lama-kelamaan, setelah saya amati, memelihara anggrek itu ternyata sederhana saja. Caranya,kita biarkan saja tanaman itu tumbuh sendiri. Kita biasanya ingin tanman anggrek itu cepat berbunga sehingga terus-menerus diberi pupuk, dipegang-pegang dan dipindah-pindahkan tempatnya. Namun dari pengalamannya itu malah mebuat pohon anggrek tidak berbunga.

Setelah mulai bisa memihara anggrek, maidi lalu mencoba berjualan anggrek hibrida yang didatangkan dari Jawa Barat. Anggre-anggrek itu dijualnya disekitar Buntok, Barito Selatan,dan Palangkaraya di Kalimantan Tengah, dan juga di Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Dari pengalaman memelihara anggrek inilah Maidi kemudian lebih mengenal adanya anggrek hutan atau anggrek species.
Habitat asli anggrek terancam akibat pembukaan hutan untuk pertambangan,perkebunan sawit dan pembalakan liar. "anggrek hitam dan anggrek tebu" contohnya adalah anggrek yang dilindungi karena keberadaannya yang langka.
Menurut Maidi di sekitar Danau Sanggu Kabupaten Barito Selatan didapati anggrek hitam (Coelogyne pandurata) sementara di daerah Jihi, Barito Timur yang dibuka untuk perkebunan sawit terdapat anggrek zebra (phalaenopsis zebrina). Maidi menemukan anggrek-anggrek hutan itu dengan masuk-keluar hutan. Dia menyusuri hutan-hutan yang rusak bersama rekannya. Maya (26) dan Ladi (27). Dalam sepekan mereka mereka berada di hutan selama 3-5 hari. Mereka menggunakan motor untuk menuju lokasi. Kami bermalam di hutan menggunakan terpal. Setiap pulang dari hutan kami mebawa 4-6 karung anggrek. Sekitar separuh dari tanman itu kami jual kepada pedagang yang saya tahu akan memeliharanya dengan baik. Hasil penjualan Rp 175.000 - Rp 250.000 per karung. Uang itu kami gunakan untuk membeli bekal dan ongkos ke hutan. Hutan Kalimantan ditumbuhi sekitar 6.000 jenis anggrek hutan. Dari jumalh itu, sedikitnya 150 jenis anggrek hutan yang ditangkarkan Maidi.

 BERBAGI
Pengetahuannya tentang anggrek  hutan tak disimpannya sendiri. Maidi terbuka dan senang berbagi kepada siapapun yang mencintai anggrek dan berminat memeliharanya

PROFIL 
Lahir: Buntok,Barito Selatan,Kalteng, 18 Oktober 1986
Istri: Dewi Masita (28)
Anak: Haris Alfuadan (6) dan Irhab Falah (3)
Pendidikan: SD Palangka 21, Palangkaraya, Kalteng
                    Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Palangka
                    Madrasah Aliyah Negeri Buntok



Anggrek Tebu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com