Pages

Sabtu, 11 April 2015

Human Philosopical Reflections 2 : Knowledge, Intelligence, Affection, dan Freedom

HUMAN PHILOSOPICAL REFLECTIONS 2: KNOWLEDGE, INTELLIGENCE, aFFECTION, AND FREEDOM 

1. Kebebasan
Pengertian kebebasan dapat dilihat dari berbagai sudut, baik umum maupun khusus. Namun, dalam pengertian umum kebebasan bersifat negatif. Bebas berarti tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan atau tidak ada larangan.
Dalam pengertian khusus kebebasan dilihat dalam diri manusia itu sendiri. Hal ini dikaitkan dengan tiga hal yaitu, penyempurnaan diri, kesanggupan untuk memilih dan memutuskan,  dan kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan.
Pengertian kebebasan secara khusus juga terkait dengan krsanggupan manusia untuk memilih dan menentukan diri , dimana pilihan adalah realitas hidup manusia. Dengan berhadapan dengan pilihan ia harus bisa mengambil keputusan. Dengan demikian kebebaan berkaitan dengan potensi manusia untuk menentukan arah hidupnya.
Jenis-Jenis Kebebasan
  • Kebebasan Horizontal
Kebebasan horizontal berkaitan dengan pilihan-pilihan yang tak berhubungan dengan moral atau hal-hal yang mendasar dalam hidup manusia. Pilihan-pilihan ini berkaitan dengan kesenangan atau kesukaan
  • Kebebasan Vertikal
Kebebasan ini berkaitan dengan pilihan moral. Dalam kebebasan ini ada dasar yang dijadikan sebagai titik tolak pertimbangan.
  • Kebebasan Eksistensial
Kebebasan eksistensial menyatu dengan manusia sebagai pribadi. Kebebsan ini termasuk eksistensi kemanusiaan.
  • Kebebasan Sosial
Kebebasan ini berkaitan dengan orang lain,  dimana “keadaan sesorang tidak dibatasi untuk bertindak secara terpaksa oleh orang lain.
2. Pengetahuan
Kegiatan mengetahui adalah cara manusia mengunkaokan keberadaannya. Melalu pengetahuan manusia berhubungan dengan orang lain. Melalui pengetahuan manusia bisa berada lebih tinggi. Pengetahuan merupakan hasil sebuah subjek terhadap objek. Pengetahuan adalah produk produk dari pemikiran manusia. Pengetahuan manusia memiliki sifat-sifat umum, yaitu imanen, intensional, relasional, progresif, mendusnia, perspektif, personal, dan menyejarah.
Syarat-syarat pengetahuan
  • Spontanitas
Spontanitas berasal dari bahasa latin, yakni spontalis, artinya sukarela atau kehendak sendiri. Sikap ini merupakan kondisi pertama yang memungkinkan munculnya pengetahuan.
  • Keterbukaan
Pada hakikatnya objek tidak bisa membuka diri pada subjek, karena objek terkurung dan tertutup dalam dirinya, objek juga tidak membutuhkan subjek bagi dirinya sendiri.
  • Kesadaran
Merupakan syarat dasar, dengan kata lain orang yang berpengatuhan adalah orang-orang yang sadar.
Peranan otak. Kesadaran terkait dengan otak karena itu peranan otak sangat penting sebagai kondisi yang memungkinkan pengetahuan.
Dua Bentuk Pengetahuan
  • Pengetahuan Indrawi
Pengetahuan indrawi merupakan hasil pencerapan lima indra manusia. Prosesnya sangat sederhana yakni, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang disentuh, serta apa yang dicium yang masuk ke otak.
  • Pengetahuan intelektif
Pengetahuan ini yang membedakan manusai dengan binatang, yang berarti meskipun manusia dan binatang memiliki kesamaan indra namun yang menjadi pembeda adalah intelegensi. Selain itu manusia juga bisa menangkap arti apa yang ditangkap oleh indranya secara fundamental.
3. Intellegence
Inteligensi berasal dari bahasa latin intellegere dan intellectus. Kata intellegere berasal dari dua kata yaituintus yang berarti pikiran atau akal dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Sedangkanintellegere berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam.
Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana, ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan.
4. Afektivitas
Afektivitas adalah kemampuan untuk menyatakan emosi, berdasar pengalaman sendiri, khususnya untuk memenuhi suatu kebutuhan atau dorongan yang mendesak. Kenetralan dalam afektivitas ditunjukkan seseorang yang dapat menahan diri dalam memenuhi kebutuhan mendesak itu dengan maksud mencapai tujuanlain yang lebih jauh.
Melalui afektivitas manusia tergerakkan hatinya, keinginannya, dan peraaannya atau ketertarikannya untuk mengamati, mempelajari, dan mengembangkan pengada-pengad aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya.
Afektivitas berbeda dari pengetahuan. Cinta (afektivitas positif) atau benci (afekivitas negatif) bisa menjadi penentu dasar suatu tindakkan positif.
Afektivitas bukan hanya sekedar selera tetapi juga mengenai intelektual atau intelligible. Kegiatan afektiv harus dimengerti sebagai gerakkan batin karena subjeknya ditarik atau ditolak. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain, jadi sejauh lebih bersifat eksistensial.
Jadi, untuk mencapai afektivitas, subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif.
Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004. Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8. Hal.119.
Sihotang, K. 2009. Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme. Yogyakarta: Penerbit Kansius.

diintisarikan dari kelompok dan dari  binusmaya pertemuan 13-15, diunduh tanggal 11 April 2015

1 komentar:

  1. dear tanya, tulisannya jangan dempet2 diperhatikan lg bentuk tata letaknya. biar enak diliat dan mudah dibaca
    nilai: 75

    BalasHapus

 

Template by BloggerCandy.com