Pages

Kamis, 15 Januari 2015

Sosook

ANDI MUHAMMAD ASLAM DALAM MELAWAN NARKOBA DAN HIV/AIDS
Oktober 30,2014
Kompas, Rabu, 29 Oktober 2014
Oleh Lukas Adi Prasetyo
      Andi Muhammad Aslam lelaki kelahiran Parepare, 31 Agustus, 1975 ini mendapatkan penghargaan dari mantan wakil presiden Boediono pada akhir Juni 2014 silam. Aslam mendapatkan penghargaan karena jasanya sebagai tokoh penggiat penanggulangan penyalahgunaan narkoba.
Pada tahun 2002, Aslam menjejaki sebuah Kota yang berjarak 100 kilometer dari ibu kota Kalimantan Timur (Samarinda) yakni Bontang. Pada awalnya dia berniat hanya untuk jalan-jalan dan bersantai dari rutinitasnya sehari-hari di kota Makassar, namun Aslam justru terkesima dengan sebuah tempat prostitusi Prakla. Semakin lama ia semakin penasaran dan ingin tahu “isi dapur” serta dinamika harian tempat prostitusi tersebut. Dengan menggunakan kaus oblong, ransel, serta celana jins, dan dengan setumpuk tanda tanya di kepalanya yang membutuhkan sebuah jawaban, ia rajin keluar-masuk Prakla. Tak bosan-bosan ia menggali cerita dari para pekerja seks komersial (PSK), mucikari, preman, serta siapapun yang ia temui saat itu.
     Setelah terkumpulnya setumpuk cerita yang kemudian dianalis, ternyata prostitusi tak hanya tentang PSK dan pria hidung belang, tetai juga mengenai hiruk pikuk keseharian. Ada narkoba, minuman keras, kekerasan seksual, pemerasan, masalah keluarga, hingga air mata disana.
Saat itu, HIV/AIDS ataupun penyalahgunaan narkoba belum menjadi perhatian serius. PSK belum begitu memperhatikan masalah kesehatan saat itu. PSK juga tak perduli apa yang mereka terima dan rasakan.
Mereka rentan sakit, tapi tak tahu harus bagaimana. Awalnya saya, ya hanya ngobrol biasa, menanyakan, kok mereka sakit. Akhirnya cerita demi cerita keluar. Saya mendengarkan. Ya, menjadi teman bicaralah. Sedikit demi sedikit, mereka lebih terbuka”. Ujar Aslam.
Setelah mendengarkan cerita demi cerita dari para PSK, barulah Aslam mulai menyampaikan soal HIV/AIDS serta bahaya yang dapat ditimbulkan penyakit tersebut. Aslam pun memberikan penyadaran bahaya HIV/AIDS secara bersamaan dengan masalah narkoba.
Pada tahun 2003, Aslam mendapatkan dana dari walikota Bontang saat itu, Sofyan Hasdam. Uang tersebut digunakan Aslam untuk menyewa rumah dan mendirika lembaga advokasi dan rehabilitasi sosial, yang ia beri nama Yayasan Laras. Aslam juga mengajak beberapa temannya untuk membantunya memberikan konseling.
     Misalnya, dari 100 PSK yang mengikuti konseling, hanya terdapat 2 orang yang akhirnya bisa benar-benar meninggalkan pekerjaan itu. Sebab meskipun PSK mempunyai skill tersendiri, mereka masih menjadikan prostitusi sebagai kerja sampingan agar pemasukan hariannya ada.
Sejak yayasan Laras berdiri 11 tahun lalu, sudah lebih dari 30.000 orang yang pernah berkonsultasi ke Laras.
Prevelensi narkoba di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara 3,1 persen, nomor tiga di tingkat nasional. Artinya, dari 100 warga, 3 orang pemakai narkoba. Dari 3,5 juta warga KalTim-KalTara, ada 100.000 pengguna narkoba. Di sisi lain, jumlah PSK tak terhitung. Perang belum usai”. Ujar Aslam.

Sumber : Kompas, Rabu, 29 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com